Percepatan pembangunan terutama jalan dan fasilitas publik di suatu daerah akan meningkatkan mobilisasi urban dan permasalahan lain yang mengikutinya. Cimenyan yang berada di Kawasan Bandung Utara (KBU) adalah salah satu gambaran realistis di depan mata penulis yang tinggal menetap sejak enam tahun yang lalu. Penataan tata ruang dan penegakan peraturan daerah serta kesungguhan pemimpin daerah lokal menjadi sorotan penulis saat ini. Bila terus dibiarkan dan dibiarkan, tinggal menunggu "ledakan" masalah ekonomi-sosial-lingkungan masyarakat yang berada di ketinggian perbukitan yang sebagian besar petani marginal yang tergantung dengan curahan hujan.
Ironi, dengan jarak dari pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat hanya 5 km dan 30 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung di Soreang. Perda Provinsi Jabar seperti tak punya gigi, karena kondisi kas desa yang masih lebih besar tergantung dengan pendapatan tak tetap atau bantuan pemerintah yang belum menjamin kesejateraan aparatur desa. Sehingga peraturan tinggal peraturan, pembangunan perumahan seperti bergerilya bahkan dengan memakirkan beberapa mobil dinas kemiliteran di rumah dan depan kantor desa, masalah pembangunan rumah mewah yang sudah ditentang oleh warga karena mengganggu sumber dan resapan air tetap berjalan. Jadinya,dari beberapa ratus meter setelah masuk Jalan Padasuka menuju ke Cimenyan, bila di petang hari, sudah berkilauan lampu penerang di setiap sudut halaman sehingga dari jauh "kaciri" ada rumah meeewah! Bagaimana dengan pemerintah kabupaten, "tebiiih teuing euy" jadi susah ngontrolnya, jawaban klise.
Penataan tempat wisata Caringin Tilu pun tak terarah dengan kebijakan formal. Hukum rimba berlaku, siapa yang kuat di di wilayah itu, ianya dapat mengatur pembangunan saung-saung dan mengumpulkan pundi-pundi pendapatan tanpa adanya transparansi. Wisata Caringin Tilu dengan View City Of Bandung banyak mengundang decak kagum pengunjung, dan seharusnya menjadi jalan penapakan ruhiyah dengan tafakur memuji ciptaan-Nya yang indah. Tapi pengalaman membuktikan tempat itu dijadikan ajang maksiat terutama di malam hari, tak kenal hari...karena setiap hari ditemui dengan mudah belasan pasangan sedang terlena dan melenakan diri.
Pemahaman dari pijakan pendidikan yang rata-rata rendah, kehidupan dan cara ikhtiar berekonomi yang pragmatis dan budaya kehidupan yang masih jauh dari nilai-nilai Islam. Menjadi akar pemasalahan dan mengundang amal nyata kami untuk menata lingkungan Cimenyan. Siapa lagi bila bukan kami yang sedikit banyak sudah mengenal karakter penduduk dan para tokoh masyarakatnya. Kondisi real tofografisnya yang bukit dan lembah sudah kami jelajahi dan dipetakan. Maka terjawab beberapa masalah untuk dicarikan solusinya yaitu:
1. Jarak rumah dan fasilitas pendidikan formal yang harus melewati jalan becek bila hujan dan berdebu bila kemarau dengan satu, dua dan seterus berupa bukit dan lembah mesti dilewati untuk menuju ke SD , apalagi SMP dan bahkan Sekolah Lanjutan Atas harus naik ojek pulang pergi (PP) antara 10 ribu sampai dengan 20 ribu. Sehingga paling banyak penduduk berpendidikan sampai SD itupun tak tamat, kemudian sedikit SMP dan lebih sedikit SMA serta sangat sedikit bergelar sarjana.
Maka Solusinya, kami mengusahakan santunan biaya transportasi dari 50 ribu sampai 100 ribu, ada yang rutin karena ada donatur tetapnya (4 orang anak) dan insidentil yang tak terduga waktu dan besarnya. Delapan anak dari Rumah Amal Salman akan berhenti sampai bulan Juni sesuai rencana program.
2. Pengamalan Nilai-Nilai Islam yang masih didominasi ajaran kepercayaan, mengkultuskan tokoh panutan dan sebagainya.
Maka kami, memprogramkan pengajian pekanan para tokoh dan para pelajar, ta'lim rutin setiap Ahad pagi dan siang dengan masjid dan tempat lain yang berbeda dan Kamis Malam di masjid dekat rumah penulis.
3. Puskemas yang berada di pusat kecamatan agak sulit dijangkau dengan kondisi daerah berbukit dan lembah sehingga disiasati oleh sebuah lembaga misionaris dengan membuat Balai Pengobatan Murah.
Maka kami secara berkala dengan teman-teman praktisi kesehatan mengadakan bakti sosial (baksos).
Penulis berharap ada uluran tangan untuk membenahi lingkungan terdekat dan bertahap meluas sampai ke seantero negeri. Lingkungan terdekat dibenahi menjadi jalan kemudahan membangun negeri.
Kami sediakan rekening infaq untuk program ini:
===> 0070093256 Bank Syariah Mandiri Cab.Bandung
===> 1310007225503 Bank Mandiri KCP Ahmad Yani, Bandung
===> 4370949579 BCA KCU Ahmad Yani, Bandung.
===> 919 3095399 Bank Muamalat (Share)Bandung
Semua atas nama Ahmad Itsnaeni, mohon dengan hormat bila ada transfer infaq untuk program kami mengharapkan SMS pemberitahuan ke 081394507185 atau 02270734370.
Sabtu, 13 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar