Medio Mei 2002 Mencerahkan Diri dan Keluarga, sepekan usia Tsalitsa anak ketiga kami lahir, Faishal Abdurrahman (2,5 thn) anak kedua kami sakit, sepertihalnya terjangkit DBD, bintik-bintik merah tetapi tidak demam panas dan muncul biru lebam di kedua lengan dan sebagian depan-belakang tubuhnya seperti bekas terbentur atau terpukul benda keras. Sehari, dua hari saya tak lagi menginterogasi kakak dan ibunya apakah suka mencubit dan memukul Faishal? Jawaban jujur mereka memang terjawab pada hari ke-3 saat darah keluar dari hidung dan dubur Faishal ditambah dengan semakin banyaknya bintik merah dan biru lebam di seluruh tubuhnya. Dokter rumah sakit memvonis anakku kelainan trombosit (ITP), saat itu trombositnya merosot drastis 20.000 yang seharusnya 150.000. Loh! Ternyata diruang perawatan banyak juga pasien penderita ITP seperti anakku, bahkan mereka sudah ada yang lebih dari tiga pekan dan di antaranya sudak diperiksa sumsum tulangnya. Beberapa hari sudah 8 labu trombosit ditranfusikan ke tubuh anakku, kenaikannya tidak signifikan hanya 50.000 saja. Prednison, igastum dsb sudah rutin diminumnya hanya efek samping yang dirasakannya.
Alhamdulillah atas izin Allah saya berjumpa dengan Tuan Haji Ismail Bin Ahmad seorang juru da'wah(da'i), thabib dan pengusaha herbal sukses. Tiga hari dua malam saya mengikuti pelatihan pengobatan alamiah, ilmiah dan ilahiyah dengan beliau di gegerkalong hilir, Bandung pada pertengahan Mei 2002, pada kesempatan makan siang bersamanya saya mencurahkan kesyukuran saya atas kebersamaan dengannya yang mencerahkan sekaligus mengungkapkan kegundahan hati karena selama pelatihan pengobatan saya harus meninggalkan anak saya yang belum kondisi stabil-aman trombositnya.
Sungguh mencerahkan dan menenangkan bahasan jawaban beliau yang ilmiah dan ilahiyah.
"Menurut pemahaman dan pengalaman saya, anak tuan mengalami peradangan pada darah, perkuat limfa-nya cegah untuk dioperasi. Rabbana Maakhalaqta hadza bhaatila... Yang Tuhan ciptakan di alam ini tak ada yang sia-sia (semua bermanfaat). Bila tuan memiliki madu dan antanan dirumah, alangkah elok dua sendok madu digelas ditimpakan rebusan antanan(pegaga), bismillah, likulli daa'in dawaa'un, insyallah anak tuan akan sembuh"
Ahad siang setelah dari Jum'at dan Sabtu saya belajar banyak menjadi muslim sejati, berdzikir tak lepas dari diri terutama pada pagi dan petang dan tengah malamnya mengiba-menangis dan men-tadzkiyah hingga jelang fajar karena katanya lagi pada kuliah shubuh "kesembuhan datang dari Allah, sepatutnya sang pengobat harus dekat kepadaNya dan menjauhkan diri dari kesyirika, teruslah mentarbiyah diri dengan sabar dan tawakal" kembali kerumah segera. Iya! Segera saya berusaha mengikuti advis beliau tanpa celah, Alhamdulillah Senin pagi diberikan minuman rebusan pegaga campur madu, selasa, rabu...sepekan pada senin siang saya bawa Faishal ke laboratorium di jalan riau, Bandung, trombositnya anak saya mencapai 130.000. Subhanallah tanpa ragu saya sujud syukur kemudian beberapa hari kemudian terbang ke Perlis, Malaysia untuk belajar lebih lama mengembangkan pemahaman pengobatan secara mendasar dan komplementernya. Sertifikat 'Itiraf (sumpah) sebagai pengamal dan pengobat madu, bekam, herbal, psikologi pengobatan dan sebagainya diberikan kepada saya dan konsentrasi usaha saya pindahkan pada pengembangan madu dan herbal terutama antanan (pegaga) sebagai makanan rutin kami di rumah dan pengobatan bagi pasien-pasien yang berkunjung.
Semoga menjadi jalan keberkahan bagi kami dan anda yang membaca dan mengamalkannya. Wallahualam bishawab.

Ass.Kmaha damang kang ahmad, bagaimana perkembangan madu dan bekamnya sekarang,saya ingin pelatihan bekam untuk keluarga sy, bagimana keluarga yg ke akang atanapi akang nu krumah.Selamat atas blognya, semoga sukses!
BalasHapusSalam hormat! Abu Umar