Dasyat! Desakan memanfaatkan lahan di Cimenyan untuk kepentingan pribadi dengan mengabaikan konservasi semakin lebih luas. Dari tahun ke tahun pembangunan terus terjadi dalam skala kecil atau besar tetapi hampir seluruhnya mengabaikan aspek keseimbangan dan dampak lebih besar ke depan terutama masalah resapan air dan ancaman bencana longsor. Bagaimana nih, masih adakah individu atau kolektif terutama kalangan eksekutif yang peduli dengan dekadensi segala aspek di Kawasan Bandung Utara (KBU) khususnya Cimenyan.
Tampilkan postingan dengan label Catatan Abi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Abi. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Oktober 2009
Cimenyan Eksotik 2 ( Perenungan Oktober 2009)
Dasyat! Desakan memanfaatkan lahan di Cimenyan untuk kepentingan pribadi dengan mengabaikan konservasi semakin lebih luas. Dari tahun ke tahun pembangunan terus terjadi dalam skala kecil atau besar tetapi hampir seluruhnya mengabaikan aspek keseimbangan dan dampak lebih besar ke depan terutama masalah resapan air dan ancaman bencana longsor. Bagaimana nih, masih adakah individu atau kolektif terutama kalangan eksekutif yang peduli dengan dekadensi segala aspek di Kawasan Bandung Utara (KBU) khususnya Cimenyan.
Selasa, 21 Juli 2009
Jangan Banyak Berharap Pada Manusia (sewajarnya)
Ahad, 26 Rajab 1430 / 19 Juli 2009 adalah hari pernikahan Susanti, akhwat kelahiran 1980 yang sebelumnya menjadi renungan panjang kawan2 yang memperhatikan keaktifan dirinya selama ini dan tentunya ketika melihat akhwat disekelilingnya terutama yang seangkatan dia dalam memulai aktifitas pembinaan diri telah menikah dan memiliki anak usia setahun hingga empat tahun.
Alhamdulillah, pada jam 10.00 telah berlangsung akad nikah dengan hikmat di Masjid Nurul Khadijah antara Susanti dan Yono Triyana. Barakallahu laka wabaraka alaika! Harapan dari puluhan undangan yang tersebar kepada para pengurus dan penggemuk di Cimenyan yang berdasarkan turut mengundang atas namaku, harapan tinggal harapan, Alhamdulillah ada 50% yang hadir atas nama undangnku.
Hikmah kudapat, Jangan cepat memvonis orang, yang dikira tak datang karena track recordnya yang selalu meremehkan undangan penting eh! ternyata datang, wallahu'alam kemana dan kenapa mereka yang tidak datang memenuhi undangan. Berharap hanya pada Allah, berharap pada manusia..., capee deh!
Alhamdulillah, pada jam 10.00 telah berlangsung akad nikah dengan hikmat di Masjid Nurul Khadijah antara Susanti dan Yono Triyana. Barakallahu laka wabaraka alaika! Harapan dari puluhan undangan yang tersebar kepada para pengurus dan penggemuk di Cimenyan yang berdasarkan turut mengundang atas namaku, harapan tinggal harapan, Alhamdulillah ada 50% yang hadir atas nama undangnku.
Hikmah kudapat, Jangan cepat memvonis orang, yang dikira tak datang karena track recordnya yang selalu meremehkan undangan penting eh! ternyata datang, wallahu'alam kemana dan kenapa mereka yang tidak datang memenuhi undangan. Berharap hanya pada Allah, berharap pada manusia..., capee deh!
Rabu, 15 Juli 2009
Perlawanan Virus H1N1 dan Penguatan Makanan Lokal
Hanya dalam hitungan hari, kasus positif influenza A H1N1 atau flu babi terus bertambah. Kemarin, Depkes RI mengumumkan tambahan 36 kasus baru. Dengan demikian, total kasus positif flu babi mencapai 122 orang (Media Indonesia,15/7).
Dan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan pemerintah akan menghentikan kebijakan isolasi dan pemberian obat antiviral jenis oseltamivir Tamiflu pada pasien positif flu babi seandainya jumlah kasus lebih dari 1000. Sepertinya akan meniru kebijakan negara barat, yaitu membiarkan pasien positif flu babi tanpa perlu diberi obat. Nantinya pasien akan sembuh sendiri.
Kutipan di atas menggambarkan bagaimana penyikapan atas perkembangan wabah yang telah mendunia dengan kembali pada kekuatan fitrah tubuh. Manakala korban sudah lebih banyak bahkan tak usah menunggu seribu, penderita dibiarkan mengandalkan tubuhnya mengendalikan serangan virus. Tubuh seperti apa yang mampu mengendalikan virus atau bakteri? Tentunya tubuh yang memperoleh penguatan dari asupan makanan yang bergizi seimbang sesuai kebutuhan tubuh. Kasus yang menimpa saudara-saudara kita yang mengikuti Asian Choir Games di Korea Selatan memperkuat analisa saya bahwa korban yang terus bertambah sampai sebanyak 40 orang terkena flu babi dari rombongan Indonesia menunjukan mereka lebih rentan di bandingkan kita di Indonesia saat flu babi mewabah. Karena kita mengkonsumsi makanan lokal dari daerah tempat kita dilahirkan dan tumbuh sejak kecil hingga mengkonsumsi makanan bergizi sesuai kondisi alam atau iklim tempat tinggal kita berada.
Bagaimana mereka yang sudah biasa mengkonsumsi makanan lokal sesuai iklimnya kemudian harus menyesuikan diri dengan iklim dan jenis makanan yang berbeda di saat wabah penyakit yang mengganas sedang menyebar merata tak terbendung. Wallahu'alam
Dan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan pemerintah akan menghentikan kebijakan isolasi dan pemberian obat antiviral jenis oseltamivir Tamiflu pada pasien positif flu babi seandainya jumlah kasus lebih dari 1000. Sepertinya akan meniru kebijakan negara barat, yaitu membiarkan pasien positif flu babi tanpa perlu diberi obat. Nantinya pasien akan sembuh sendiri.
Kutipan di atas menggambarkan bagaimana penyikapan atas perkembangan wabah yang telah mendunia dengan kembali pada kekuatan fitrah tubuh. Manakala korban sudah lebih banyak bahkan tak usah menunggu seribu, penderita dibiarkan mengandalkan tubuhnya mengendalikan serangan virus. Tubuh seperti apa yang mampu mengendalikan virus atau bakteri? Tentunya tubuh yang memperoleh penguatan dari asupan makanan yang bergizi seimbang sesuai kebutuhan tubuh. Kasus yang menimpa saudara-saudara kita yang mengikuti Asian Choir Games di Korea Selatan memperkuat analisa saya bahwa korban yang terus bertambah sampai sebanyak 40 orang terkena flu babi dari rombongan Indonesia menunjukan mereka lebih rentan di bandingkan kita di Indonesia saat flu babi mewabah. Karena kita mengkonsumsi makanan lokal dari daerah tempat kita dilahirkan dan tumbuh sejak kecil hingga mengkonsumsi makanan bergizi sesuai kondisi alam atau iklim tempat tinggal kita berada.
Bagaimana mereka yang sudah biasa mengkonsumsi makanan lokal sesuai iklimnya kemudian harus menyesuikan diri dengan iklim dan jenis makanan yang berbeda di saat wabah penyakit yang mengganas sedang menyebar merata tak terbendung. Wallahu'alam
Selasa, 07 Juli 2009
Cimenyan Yang Eksotik
14 Rajab 1430, baru saja keyboar dipegang, ringtone hp sy mmanggil. Pak Budi Direktur eksekutif Rumah Amal Salman ITB menelepon, Jum'at pekan ini akan ada rombongan tamu dari Surabaya akan berkunjung ke rumah dan melihat Cimenyan yang eksotik. Memang banyak yang bilang setelah mendaki ke bukit Caringin Tilu, makan timbel nasi merah, sambel cikur plus lalapan, menambah eksotik memang. Bagaimana? Ya apa adanya, smoga sy mampu mengambil hikmah dari semua ini. Tamu adalah berkah yang harus kita sambut dengan sukacita. Smoga!!!
Nah di atas itu tamu-tamunya...beberapa hari kemudian datang menjelang Jum'atan dan mesti saya tinggalkan karena harus mengisi di khutbah di Masjid perumahan di desa Cikadut sebelah timur desa saya. Alhamdulillah Abah Eman dan Ma Imi yang sudah rutin tiap jum'at kita gunakan untuk pertemuan siap dengan suguhan ala Cimenyan nasi timbel dan rerencangna, siiip! Barakallah.
Sabtu, 04 Juli 2009
Merindukan Tuan Haji Ismail Indonesia
Ia telah banyak mencerahkan umat khususnya saudara2 ku di indonesia
Kapankah ada yang menandinginya?
Kapankah ada yang menandinginya?
Kamis, 02 Juli 2009
Biarkan... Mereka Berkembang
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Rajab hari ke-9, kamis (2/7/09) dibalik kaca ruang kerja, saya memandangi anak-anak belahan jiwa dan teman-temannya di pagi hari sekitar jam 7-an sedang mengais-ngais serakan daun di kebun sebelah rumah yang rimbun dengan tegakan pepohonan cengkeh yang tumbuh berjejer teratur di sekeliling kebun itu. Masa liburan yang menyenangkan bagi mereka.
"Abi nanti kalo sudah banyak dijual untuk beli PS3 ya...!? Celoteh anak bungsuku, Fakhri.
"Kalo cengkeh teteh dijual ke ummi aja untuk bikin kue kering" Tetehnya Fakhri menimpali.
"Kalo kaka mah untuk bahan obat sakit gigi atau pasta gigi ya bi...!??" Si sulung menambahi cerdas.
"ok...ok...sekarang dijemur cengkehnya, lihat tuh sinar mataharinya!" Kataku, mengajak mereka ke halaman dan membentangkan beberapa lembar koran.
Mereka bersemangat penuh suka cita mengerubungi saya setelah merasa sudah banyak mengumpulkan cengkeh yang berjatuhan.
Subhanallah, mereka tumbuh dengan alamnya...., biarlah !!!
Iya! Biarkan mereka mengeksploitasi alam lingkungannya dengan arahan kita yang mencerdaskan. Sebab ku tahu ada sebagian tetanggaku yang melarang anak-anaknya seperti itu. Biarkanlah...mereka berkembang...
Rajab hari ke-9, kamis (2/7/09) dibalik kaca ruang kerja, saya memandangi anak-anak belahan jiwa dan teman-temannya di pagi hari sekitar jam 7-an sedang mengais-ngais serakan daun di kebun sebelah rumah yang rimbun dengan tegakan pepohonan cengkeh yang tumbuh berjejer teratur di sekeliling kebun itu. Masa liburan yang menyenangkan bagi mereka.
"Abi nanti kalo sudah banyak dijual untuk beli PS3 ya...!? Celoteh anak bungsuku, Fakhri.
"Kalo cengkeh teteh dijual ke ummi aja untuk bikin kue kering" Tetehnya Fakhri menimpali.
"Kalo kaka mah untuk bahan obat sakit gigi atau pasta gigi ya bi...!??" Si sulung menambahi cerdas.
"ok...ok...sekarang dijemur cengkehnya, lihat tuh sinar mataharinya!" Kataku, mengajak mereka ke halaman dan membentangkan beberapa lembar koran.
Mereka bersemangat penuh suka cita mengerubungi saya setelah merasa sudah banyak mengumpulkan cengkeh yang berjatuhan.
Subhanallah, mereka tumbuh dengan alamnya...., biarlah !!!
Iya! Biarkan mereka mengeksploitasi alam lingkungannya dengan arahan kita yang mencerdaskan. Sebab ku tahu ada sebagian tetanggaku yang melarang anak-anaknya seperti itu. Biarkanlah...mereka berkembang...
Langganan:
Postingan (Atom)
